Adab berpakaian (1)

pakaian merupakan salah satu nikmat sangatbesar yang Allah berikan kepada para hambanya,Islam mengajarkan agar seorang muslimberpakain dengan pakaian islami dengan tuntunanyang telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Berikut iniadalah adab-adab berkenaan dengan berpakaian yangsepantasnya di ketahui oleh seorang muslim: Mendahulukan Yang KananDi antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah mendahulukan yang kanan ketika memakaipakaian dan semacamnya. Dalil pokok dalam masalahini, dari Aisyah Ummul Mukminin beliau mengatakan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukanyang kanan ketika bersuci, bersisir dan memakaisandal.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam redaksi Muslim (HR. Muslim -ed) dikatakan,”Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanandalam segala urusan, ketika memakai sandal, bersisirdan bersuci.”Mengomentari hadits di atas, Imam Nawawimengatakan, “Hadits ini mengandung kaidah bakudalam syariat, yaitu segala sesuatu yang mulia dan bernilai maka dianjurkan untuk mendahulukan yangkanan pada saat itu semisal memakai baju, celanapanjang, sepatu, masuk ke dalam masjid, bersiwak,bercelak, memotong kuku, menggunting kumis,menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, menggundulkepala, mengucapkan salam sebagai tanda selesaishalat, membasuh anggota wudhu, keluar dari WC,makan dan minum, berjabat tangan, menyentuh hajaraswad dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yangberkebalikan dari hal yang diatas dianjurkan untukmenggunakan sisi kiri semisal masuk WC, keluar darimasjid, membuang ingus, istinjak, mencopot baju,celana panjang dan sepatu. Ini semua dikarenakan sisikanan itu memiliki kelebihan dan kemuliaan.” (SyarahMuslim, 3/131) Adab Memakai SendalYang sesuai sunnah berkaitan dengan memakai sandaladalah memasukkan kaki kanan terlebih dahulu barukaki kiri. Ketika melepas kaki kiri dulu baru kakikanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kalian memakai sandal, maka hendaklah dimulaiyang kanan dan bila dicopot maka hendaklah mulaiyang kiri. Sehingga kaki kanan merupakan kaki yangpertama kali diberi sandal dan kaki terakhir yangsandal dilepas darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Larangan Hanya Memakai Satu SandalDemikian pula seorang muslim dimakruhkan hanya4menggunakan satu buah sandal. Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika tali sandal kalian copot makajanganlah berjalan dengan satu sandal sehinggamemperbaiki sandal yang rusak.” (HR. Muslim)Demikian pula dari Abu Hurairah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlahkalian berjalan menggunakan satu sandal. Hendaknyakedua sandal tersebut dilepas ataukah keduanyadipakai.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perlu diketahui bahwa dua hal di atas hukumnyaadalah dianjurkan dan tidak wajib. Oleh karena itu,orang yang mendapatkan masalah dengan alas kakinyakarena tali sandal copot maka hendaknya berhentisejenak untuk memperbaiki sandal tersebut untukmelepas semua sandal lalu melanjutkan perjalanan.Tidak sepantasnya bagi seorang mukmin menyelisihilarangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipunhukumnya makruh dan tidak sampai derajat haram.Hendaknya kita berlatih dan membiasakan diri untukmengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamlahir dan bathin sehingga mendapatkan kemuliaankarena ittiba’ dengan sunnah Nabi secara hakiki.Sebenarnya, makna eksplisit dari larangan memakaisatu sandal adalah menunjukkan hukum haram andaitidak terdapat pernyataan Imam Nawawi yangmengklaim bahwa memakai dua sandal sekaligus itudisepakati sebagai perkara yang dianjurkan dan tidakwajib. Dalam Riyadhus Shalihin beliau memberi judul5untuk hadits-hadits di atas dengan hukum makruhsaja. Maka keabsahan nukilan ini perlu dikaji denganlebih seksama jika ternyata tidak benar maka maknaeksplisit larangan dan berbagai penjelasan ulamatentang motif larangan ini menunjukkan bahwasanyamenggunakan satu alas kaki saja itu hukumnyaharam. Perkataan Para Ulama Tentang Sebab PelaranganTersebutMengenai larangan berjalan dengan satu sandal, paraulama memberikan beragam keterangan tentang motifNabi dengan larangan tersebut. Imam Nawawimenyatakan bahwa para ulama mengatakan sebablarangan tersebut adalah karena menyebabkanpemandangan yang tidak pantas dilihat. Nampak cacatdan menyelisihi sikap wibawa. Di samping itu, kakiyang bersandal jelas lebih tinggi daripada kaki yanglain. Hal ini tentu menimbulkan kesulitan saatberjalan. Bahkan boleh jadi menyebabkan terpeselet.(Syarah Muslim, 14/62)Sedangkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari,10/309-310 mengatakan, “Al-Khithabi menyatakanbahwa hikmah larangan menggunakan satu sandaladalah karena itu berfungsi menjaga kaki darigangguan duri atau semisalnya yang ada di tanah. Jikayang bersandal hanya salah satu kaki maka orangtersebut harus ekstra hati-hati untuk menjaga kakiyang lain, satu hal yang tidak perlu dilakukan untukkaki yang bersandal. Kondisi ini menyebabkan ……..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s